Selasa, November 05, 2019

Kitab terjemahan matan ajrumiyah bab fiil

Kitab terjemahan matan ajrumiyah bab fiil

باب الفاعل

 

Bab Faa’il (Pelaku)

 

الفاعل هو : الاسم المرفوع المذكور قبله فعله .

 

Faa’il (pelaku) termasuk isim yang di-rafa’-kan yang disebut setelah fi’il (perbuatan) nya. 

 

وهو على قسمين : ظاهر ومضمر .

 

Dan faa’il itu ada dua jenis:1. Faa’il isim dzhahir2. Faa’il isim dhamir

 

فالظاهر نحو قولك : قام زيد ويقوم زيد وقام الزيدان ويقوم الزيدان وقام الزيدون ويقوم الزيدون وقام الرجال ويقوم الرجال وقامت هند ، وتقوم هند ، وقامت الهندان ، وتقوم الهندان ، وقامت الهندات ، وتقوم الهندات ، وتقوم الهنود ، وقام أخوك ، ويقوم أخوك ، وقام غلامي ، ويقوم غلامي ، وام أشبه ذلك .

 

Faa’il isim dzhahir itu contohnya seperti:

 

قَامَ زَيْدٌ, وَيَقُومُ زَيْدٌ, وَقَامَ الزَّيْدَانِ, وَيَقُومُ الزَّيْدَانِ, وَقَامَ الزَّيْدُونَ, وَيَقُومُ الزَّيْدُونَ, وَقَامَ اَلرِّجَالُ, وَيَقُومُ اَلرِّجَالُ, وَقَامَتْ هِنْدٌ, وَقَامَتْ اَلْهِنْدُ, وَقَامَتْ الْهِنْدَانِ, وَتَقُومُ الْهِنْدَانِ, وَقَامَتْ الْهِنْدَاتُ, وَتَقُومُ الْهِنْدَاتُ, وَقَامَتْ اَلْهُنُودُ, وَتَقُومُ اَلْهُنُودُ, وَقَامَ أَخُوكَ, وَيَقُومُ أَخُوكَ, وَقَامَ غُلَامِي, وَيَقُومُ غُلَامِي,(Zaid telah berdiri, Zaid sedang berdiri, Dua orang (bernama) Zaid telah berdiri, Dua orang (bernama) Zaid sedang berdiri, Orang-orang (bernama) Zaid telah berdiri, Orang-orang (bernama) Zaid sedang berdiri, Para laki-laki telah berdiri, Para laki-laki sedang berdiri, Hindun telah berdiri, Hindun sedang berdiri, Dua orang (bernama) Hindun telah berdiri, Dua orang (bernama) Hindun sedang berdiri, Orang-orang bernama hindun telah berdiri, Orang-orang bernama hindun sedang berdiri, Hindun-hindun telah berdiri, Hindun-Hindun Sedang berdiri, Saudara laki-laki mu telah berdiri, Saudara laki-laki mu sedang berdiri, Budak ku telah berdiri, Budak ku sedang berdiri )

 

والمضمر اثنا عشر ، نحو قولك : (( ضربت ، وضربنا ، وضربتَ ، وضربتِ ، وضربتما وضربتم ، وضربتن ، وضرب ، وضربتْ ، وضربا ، وضربوا ، وضربن ))

 

Faa’il isim dhamir itu ada 12, yaitu :

 

ضَرَبْتُ, وَضَرَبْنَا, وَضَرَبْتَ, وَضَرَبْتِ, وَضَرَبْتُمَا, وَضَرَبْتُمْ, وَضَرَبْتُنَّ, وَضَرَبَ, وَضَرَبَتْ, وَضَرَبَا, وَضَرَبُوا, وضربن(aku telah memukul, kami telah memukul, kamu (lk) telah memukul, kamu (lk) telah memukul, , kalian berdua telah memukul, kalian (lk) telah memukul, kalian (pr) telah memukul, dia (lk) telah memukul, dia (pr) telah memukul, mereka berdua telah memukul, mereka (lk) telah memukul, mereka (pr) telah memukul)

 

******************* 

 

باب المفعول الذي لم يسم فاعله

 

Bab Maf’ul yang tidak disebut Faa’ilnya (Naaibul faa’il)

 

وهو : الاسم ،المرفوع ،الذي لم يذكر معه فاعله.Naaibul faa’il adalah isim yang di-rafa’-kan yang tidak disebut bersamanya faa’ilnya

 

فإن كان الفعل ماضيا ضم أوله وكسر ما قبل آخره ،Jika fi’il madhi maka huruf pertama nya di-dhammah-kan dan satu huruf sebelum huruf terakhir dikasrahkan

 

وإن كان مضارعا ضم أوله وفتح ما قبل آخره .Jika fi’il mudhari’ maka huruf pertama nya di-dhammah-kan dan dan satu huruf sebelum huruf terakhir difathahkan.

 

وهو قسمين : ظاهر ،ومضمر.Naa’ibul faa’il itu ada dua:1. Naaibul faa’il isim dzhahir2. Naaibul faa’il isim dhamir.

 

فالظاهر نحو قولك (ضرب زيد)و(يضرب زيد)و(أكرم عمرو)و(يكرم عمرو) .

 

Naaibul faa’il isim dzhahir itu contohnya :ضُرِبَ زَيْدٌ” وَ”يُضْرَبُ زَيْدٌ” وَ”أُكْرِمَ عَمْرٌو” وَ”يُكْرَمُ عَمْرٌو(Zaid telah dipukul, Zaid sedang dipukul, ‘Amr telah dimuliakan, ‘Amr sedang dimuliakan)

 

والمضمر نحو قولك (ضربت) وضربنا ، وضربت ، وضربت ، وضربتما ، وضربتم ، وضربتن ، وضرب ، وضربت ، وضربا ، وضربوا ، وضربن .

 

Naaibul faa’il isim dhamir contohnya:ضُرِبْتُ وَضُرِبْنَا, وَضُرِبْتَ, وَضُرِبْتِ, وَضُرِبْتُمَا, وَضُرِبْتُمْ, وَضُرِبْتُنَّ, وَضُرِبَ, وَضُرِبَتْ, وَضُرِبَا, وَضُرِبُوا, وضُربن(aku telah dipukul, kami telah dipukul, kamu (lk) telah dipukul, kamu (lk) telah dipukul, , kalian berdua telah dipukul, kalian (lk) telah dipukul, kalian (pr) telah dipukul, dia (lk) telah dipukul, dia (pr) telah dipukul, mereka berdua telah dipukul, mereka (lk) telah dipukul, mereka (pr) telah dipukul)

 

Isnin, November 04, 2019

Fiil maklum dan majhul

l dilihat dari Fa'ilnya)

Pengertian Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul (Pembagian Fi'il dilihat dari Fa'ilnya)

 SYAMSUL ARIFIN  2/25/2019 02:29:00 PM

Setelah postingan sebelumnya saya membahas pembagian fi'il dilihat dari maf'ulnya (objeknya), yaitu fi'il lazim dan fi'il muta'addi, maka sekarang kita akan belajar tentang pembagian fi'il dilihat dari fa'ilnya (subjeknya), yaitu dibagi menjadi dua; Fi'il Ma'lum dan Fi'il Majhul. Dalam Bahasa Indonesia kita biasa mengenalnya dengan Kata Kerja Aktif (Fi'il Ma'lum) dan Kata Kerja Pasif (Fi'il Majhul), contohnya:

 "Zaid membuka buku"  ---> Kata "membuka" disebut juga dengan kata kerja aktif atau dalam Bahasa Arab disebut Fi'il Ma'lum.

"Buku dibuka oleh Zaid" ---> Kata "dibuka" disebut juga dengan kata kerja pasif atau dalam Bahasa Arab disebut Fi'il Majhul.

Pengertian Fi'il Ma'lum

Secara bahasa ma'lum artinya adalah "diketahui", sedangkan secara istilah fi'il ma'lum adalah fi'il yang fa'ilnya (pelakunya) diketahui karena disebut dalam kalimat, kalaupun tidak disebut dalam kalimat tapi sudah tersebut di kalimat sebelumnya (fa'ilnya biasanya disebut dengan dhomir mustatir/tersembunyi), contoh:

فَتَحَ زَيْدٌ البَابَ  "Zaid membuka buku" ---> fi'il "فَتَحَ" disebut juga fi'il ma'lum karena fa'ilnya diketahui, yaitu "Zaid".

Pengertian Fi'il Majhul

Secara bahasa majhul artinya adalah "tidak diketahui", sedangkan secara istilah fi'il majhul adalah fi'il yang fa'ilnya (pelakunya) tidak diketahui, atau disembunyikan karena beberapa sebab tertentu, bisa karena pendengar sudah mengetahui siapa pelakunya (fa'ilnya), atau karena memang tidak tahu siapa yang melakukan, atau karena takut jika fa'ilnya disebutkan, atau bisa juga karena hinanya sang pelaku (fa'il) sehingga si mutakallim (pembicara) tidak menyebutkannya,  atau bisa juga untuk memuliakan pelakunya sehingga mutakallim segan untuk menyebutkan fa'ilnya dan memilih untuk menggunakan susunan fi'il majhul, atau beberapa alasan lainnya.

dalam fi'il majhul, maf'ulnya/objeknya atau yang terkena fi'il akan menduduki posisi fa'il yang tidak ada sehingga dibaca rofa', dan maf'ul bih yang dibaca rofa' disebut dalam pembahasan fi'il majhul disebut juga dengan naaibul fa'il (pengganti fa'il). untuk lebih jelasnya mari kita lihat perubahan dari fi'il ma'lum menjadi fi'il majhul dari contoh berikut:



Dari contoh di atas, terlihat perubahan mendasar ketika masih fi'il ma'lum, maf'ul bih atau objeknya masih dibaca nashob dan kedudukannya masih sebagai maf'ul bih, fa'il atau pelakunya juga masih ada. Tapi setelah berubah menjadi fi'il majhul, seketika fa'il atau pelakunya dihilangkan dan yang tadinya "حَافِظَ لقُرآنِ" menjadi maf'ul bih ketika ia masuk susunan fi'il majhul maka maf'ul tersebut otomatis menjadi naaibul fa'il atau pengganti fa'il yang hilang, maka ia juga dibaca rofa'.

Cara merubah fi'il ma'lum menjadi fi'il majhul

untuk menjadi fi'il majhul, maka harus mengikuti pola berikut:

untuk fi'il madhi:

ضُمَّ أوَّلُهُ وَ كُسِرَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ

 "Huruf awalnya didhommah, dan huruf sebelum akhir dikasroh"

Fi'il ma'lum :
menulis  كَتَبَ

="font-size: large;">membaca  قَرَأ
memukul  ضَرَبَ
membuka  فَتَحَ
meminta ampun اسْتَغْفَرَ
memakai اسْتَعْمَلَ
mencintai أَحَبَّ

ketika dirubah menjadi fi'il mahjul maka menjadi:
ditulis كُتِبَ
dibaca  قُرِأَ
dipukul ضُرِبَ
dibuka  فُتِحَ
dimintai ampun اُسْتُغْفَِرَ
dipakai اُسْتُعْمِلَ
dicintai أُحِبَّ

untuk fi'il mudhore:

ضُمَّ أوَّلُهُ وَ فُتِحَ مَا قَبْلَ آخِرِهِ

 "Huruf awalnya didhommah, dan huruf sebelum akhir difathah"

Fi'il ma'lum :
menulis  يَكْتُبُ
membaca  يَقْرَأُ
memukul  يَضْرِبُ
membuka  يَفْتَحُ
meminta ampun يَسْتَغْفِرُ
memakai يَسْتَعْمِلُ
mencintai يُحِبُّ

ketika dirubah menjadi fi'il majhul maka menjadi:
ditulis يُكْتَبُ
dibaca  يُقْرَأُ
dipukul يُضْرَبُ
dibuka  يُفْتَحُ
dimintai ampun يُسْتَغْفَرُ
dipakai يُسْتَعْمَلُ
dicintai يُحَبُّ

Cara merubah fi'il ma'lum yang terdapat huruf illah menjadi fi'il majhul

1. Saat fi'il madhi yang huruf sebelum akhirnya berupa alif (selagi bukan sudaasi "fi'il yang jumlah hurufnya ada enam") maka cara mem-majhul-kannya adalah dengan mengganti alif dengan huruf ya (ي) dan huruf-huruf sebelumnya yang berharokat harus diganti dengan kasroh, contoh:
berkata قَالَ  
berdiri قَامَ
bertambah زَادَ
membeli ابْتَاعَ
menyebar اجْتَاحَ

Ketika dirubah menjadi fi'il majhul maka menjadi:
dikatan قِيْلَ  
diberdirikan قِيْمَ
ditambah زِيْدَ
dibeli اِبْتِيْعَ
disebar اِجْتِيْحَ

Adapun ketika dalam keadaan fi'il mudhore, maka huruf pertamanya didhommah, dan huruf illah nya (baik huruf ي atau و) dirubah menjadi alif, dan sebelum alif berharokat fathah, contoh:
berkata يَقُوْلُ  
berdiri يَقُوْمُ
bertambah يَزِيْدُ
membeli يَبْتَاعُ
menyebar يَجْتَاحُ

Ketika dirubah menjadi fi'il majhul maka menjadi:
dikatan يُقَالُ  
diberdirikan يُقَامُ
ditambah يُزَادُ
dibeli يُبْتَاعُ
disebar يُجْتَاحُ

2. Jika fi'il tersebut terdiri dari tujuh huruf, contoh dalam bentuk fi'il madhi:

meminta seseorang untuk taubat اِسْتَتَابَ
meminta maaf/tanyakan (seseorang bantuan) اِسْتَمَاحَ

maka gantilah alifnya dengan huruf ya (ي), hamzah dan huruf ketiganya diharokati dengan dhomah, dan huruf sebelum ya harus berharokat kasroh, maka menjadi:
diminta seseorang untuk taubat أُسْتُتِيْبَ
dimintai maaf/ditanyakan (seseorang bantuan) أُسْتُمِيْحَ

Adapun jika dalam bentuk fi'il mudhore':
meminta seseorang untuk taubat يَسْتَتِيْبُ
meminta maaf/tanyakan (seseorang bantuan) يَسْتَمِيْحُ

maka huruf awalnya didhommah, dan huruf ya diganti menjadi huruf alif, dan huruf sebelum alif harus berharokat fathah, maka menjadi:
diminta seseorang untuk taubat يُسْتَتَابُ
dimintai maaf/ditanyakan (seseorang bantuan) يُسْتَمَاحُ

3. Jika fi'il tsulasi ajwaf (yang 'ain fi'ilnya berupa huruf illah) digabung dengan dhomir muttasil yang rofa', yang mana dalam fi'il ma'lum ia berharokat dhommah di awal, contoh;
saya telah mengatakan قُلْتُ
kamu telah melempar رُمْتَ

maka harokat huruf pertamanya tinggal diganti menjadi harokat kasroh:
saya telah dikatakan قِلْتُ
kamu telah dilempar رِمْتَ

4. Adapun fi'il tsulasi ajwaf yang ketika fi'il ma'lum berharokat kasroh di awal huruf, contoh:
saya menjual بِعْتُ
saya menambah زِدْتُ

maka harokat huruf pertamanya tinggal diganti menjadi harokat dhommah:
saya dijual بُعْتُ
saya ditambah زُدْتُ

demikianlan penjelasan fi'il ma'lum dan fi'il majhul dan cara merubah dari fi'il ma'lum ke fi'il majhul, semoga membantu teman-teman dalam memahaminya, selamat belajar! :D

Referensi:

Kitab "جامع الدروس العربية"

Sahih bukhari kitab maghazi sesi 088

Sahih bukhari kitab maghazi sesi 088

(Sambungan)Kembalinya Rasullah saw dari perang ahzab  dan keluarnya baginda ke (kawasan)Bani Quraizah serta pengepungan terhadap mereka.

Bab terakhir bab 32

باب مَرْجَعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الأَحْزَابِ وَمَخْرَجِهِ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ وَمُحَاصَرَتِهِ إِيَّاهُمْ:

٤٤ -  المغازي » ٢١٥٤ -  مرجع النبي صلى الله عليه وسلم من الأحزاب ومخرجه

44. Peperangan » 2154. Kembalinya Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam dari perang Ahzab

٣٨١٤ - حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَدِيٌّ أَنَّهُ سَمِعَ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَسَّانَ اهْجُهُمْ أَوْ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ وَزَادَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظَةَ لِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ اهْجُ الْمُشْرِكِينَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ مَعَكَ

3814. Telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Minhal telah mengabarkan kepada kami Syu'bah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Adi dia mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Hassan: "Seranglah mereka, atau hancurkanlah mereka, karena jibril selalu bersamamu". Dan Ibrahim bin Thahman menambahkan dari Asy Syaibani dari 'Adi bin Tsabit dari Al Bara` bin 'Azib ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Hasaan bin Tsabit pada perang Quraizhah: "Seranglah kaum musyrikin, karena jibril selalu bersamamu."

٣٨١٤ - حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ قَالَ أَخْبَرَنِي عَدِيٌّ أَنَّهُ سَمِعَ الْبَرَاءَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَسَّانَ

👈 اهْجُهُمْ أَوْ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ

وَزَادَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ قُرَيْظَةَ لِحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ

👈اهْجُ

الْمُشْرِكِينَ فَإِنَّ جِبْرِيلَ مَعَكَ

3814. Telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Minhal telah mengabarkan kepada kami Syu'bah ia berkata; telah mengabarkan kepadaku 'Adi dia mendengar Al Bara' radliallahu 'anhu berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Hassan:
👉 "Seranglah
-caci dan celalah
-melalui syair
-syair hijab ialah  syair untuk mengecam ,mencela dan memusuhi mysuh2nya.dan hijah juga menyentuh keturunan dan peribadi.
-lagu juga boleh memberi semangat.
-syair yg biasa berbeza antara orang islam dan bukan islam
-boleh balas setimpal

mereka, atau hancurkanlah mereka, karena jibril selalu bersamamu". Dan Ibrahim bin Thahman menambahkan dari Asy Syaibani dari 'Adi bin Tsabit dari Al Bara` bin 'Azib ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Hasaan bin Tsabit pada perang Quraizhah:

👉 "Seranglah

kaum musyrikin, karena jibril selalu bersamamu."

Jumaat, November 01, 2019

Jami' tirmizi kitab berbuat baik sesi 010.

Jami' tirmizi kitab berbuat baik  sesi 010.

Bab adab sesaorang anak.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٥ -  ما جاء في أدب الولد
باب مَا جَاءَ فِي أَدَبِ الْوَلَدِ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1295. Adab
anak

١٨٧٤ - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى عَنْ نَاصِحٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَنَاصِحٌ هُوَ أَبُو الْعَلَاءِ كُوفِيٌّ لَيْسَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ بِالْقَوِيِّ وَلَا يُعْرَفُ هَذَا الْحَدِيثُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَنَاصِحٌ شَيْخٌ آخَرُ بَصْرِيٌّ يَرْوِي عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ وَغَيْرِهِ هُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا

1874. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ya'la dari Nashih dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mengajari anaknya tentang kebaikan adalah lebih baik baginya daripada ia bersedekah sebanyak satu sha'." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib. Nashih adalah Abul Ala` Kufi, menurut Ahli hadits ia bukanlah termasuk rawi yang kuat. Dan hadits ini tidak diketahui kecuali dari jalur ini. Sedangkan Nashih adalah seorang syaikh yang lain, ia berasal dari Basrah dan meriwayatkan dari Ammar bin Abu Ammar dan juga selainnya, dan ia lebih kuat dari pada yang ini.

١٨٧٥ - حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَامِرِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازِ وَهُوَ عَامِرُ بْنُ صَالِحِ بْنِ رُسْتُمَ الْخَزَّازُ وَأَيُّوبُ بْنُ مُوسَى هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِي وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُرْسَلٌ

1875. Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami, telah menceritakan kepada amino Amir bin Abu Amir Al Khazzar, telah menceritakan kepada kami Ayyub bin Musa dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada suatu pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Amir bin Abu Amir Al Khazzar, ia adalah Amir bin Shalih bin Rustum Al Khazzar. Sedangkan Ayyub bin Musa adalah Ibnu Amr bin Sa'id bin Al Ash. Dan menurutku, ini adalah hadits Mursal.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٦ -  ما جاء في قبول الهدية والمكافأة عليها

باب مَا جَاءَ فِي قَبُولِ الْهَدِيَّةِ وَالْمُكَافَأَةِ عَلَيْهَا:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1296. Menerima hadiah dan membalas

١٨٧٦ - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ عَنْ هِشَامٍ

1876. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Aktsam dan Ali bin Khasyram keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya. Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Anas, Ibnu Umar dan Jabir. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib shahih ditinjau dari jalur ini. Kami tidak mengetahuinya sebagai hadits Marfu' kecuali dari haditsnya Isa bin Yunus dari Hisyam.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٧ -  ما جاء في الشكر لمن أحسن إليك

باب مَا جَاءَ فِي الشُّكْرِ لِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْكَ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1297. Berterima kasih kepada orang yang berbuat baik

١٨٧٧ - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

1877. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.

١٨٧٨ - حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ح و حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّوَاسِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

1878. Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ibnu Abu Laila (dalam riwayat lain). Dan telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki', telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman Ar Ruwasi dari Ibnu Abu Laila dari 'Athiyyah dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Hadits semakna juga diriwyakan dari Abu Hurairah, Al Asy'ats bin Qais dan An Nu'man bin Basyir. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٨ -  ما جاء في صنائع المعروف
باب مَا جَاءَ فِي صَنَائِعِ الْمَعْرُوفِ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1298. Berbuat kebajikan

١٨٧٩ - حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُرَشِيُّ الْيَمَامِيُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو زُمَيْلٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ الرَّجُلَ فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَجَابِرٍ وَحُذَيْفَةَ وَعَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو زُمَيْلٍ اسْمُهُ سِمَاكُ بْنُ الْوَلِيدِ الْحَنَفِيُّ

1879. Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul Azhim Al Anbari, telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Jurasyi Al Yamami, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Abu Zuamail dari Malik bin Martsad dari bapaknya dari Abu Dzarr ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Jabir, Hudzaifah, 'Aisyah dan Abu Hurairah. Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib dan Abu Zumail bernama Simak bin Walid Al Hanafi.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٩ -  ما جاء في المنحة

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1299. Pemberian
باب مَا جَاءَ فِي الْمِنْحَةِ:

١٨٨٠ - حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْسَجَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ بْنَ عَازِبٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ مَنَحَ مَنِيحَةَ لَبَنٍ أَوْ وَرِقٍ أَوْ هَدَى زُقَاقًا كَانَ لَهُ مِثْلَ عِتْقِ رَقَبَةٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رَوَى مَنْصُورُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ وَشُعْبَةُ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ هَذَا الْحَدِيثَ وَفِي الْبَاب عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ مَنَحَ مَنِيحَةَ وَرِقٍ إِنَّمَا يَعْنِي بِهِ قَرْضَ الدَّرَاهِمِ قَوْلُهُ أَوْ هَدَى زُقَاقًا يَعْنِي بِهِ هِدَايَةَ الطَّرِيقِ

1880. Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Yusuf bin Abu Ishaq dari bapaknya dari Abu Ishaq dari Thalhah bin Musharrif ia berkata, saya mendengar Abdurrahman bin Ausajah berkata, saya mendengar Al Barra` bin Azib berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa memberikan pemberian susu (memberikan unta atau kambing untuk diambil susunya lalu dikembalikan lagi) dan wariq (perak, yakni meminjaminya), menunjuki jalan (kepada orang yang tersesat dan orang buta), maka baginya pahala seperti memerdekakan budak." Abu Isa berkata, hadits ini hasan shahih gharib, dari hadits Abu Ishaq dari Thalhah bin Musharrif, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur periwayatan ini. Telah meriwayatkan hadits ini juga Manshur bin Al Mu'tamir dan Syu'bah dari Thalhah bin Musharrif, dan dalam bab ini dari Nu'man bin Basyir. Makna sabda beliau 'memberikan pemberian wariq (perak) ' adalah memberikan pinjaman beberapa dirham. Dan makna sabda beliau 'hada zuqaqan' adalah menunjuki (arah) jalan.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٣٠٠ -  ما جاء في إماطة الأذى عن الطريق
27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1300. Menghilangkan gangguan jalan
باب مَا جَاءَ فِي إِمَاطَةِ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ:

١٨٨١ - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ سُمَيٍّ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي طَرِيقٍ إِذْ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَرْزَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي ذَرٍّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

1881. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah dari Malik bin Anas dari Sumayya dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada seseorang berjalan, tiba-tiba ia menemukan sebuah ranting duri, lalu ia pun menyingkirkan (membuangnya dari jalan), maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya.' Dalam bab ini diriwayatkan dari Abu Barzah, Ibnu Abbas, dan Abu Dzar Abu Isa berkata, hadits ini hasan shahih.
Minit 8- minit 31
Minit 8-15
Keutamaan mendidik anak.
Apa makna adab?
Asal makna adab adalah panggilan atau jemputan .
Adab adalah sesuatu yg molek ,satu pekerti yg sangat2 dianjurkan yang mana ini akan menentukan hubungan seorang itu dengan orang lain dalam keadaan yg tertib.Itu yang dikatakan sebagai beradab atau pekerti yang mulia dan berdisiplin.Bermakna kita buat sesuatu yg indah pada penglihatan orang lain dan tidaklah menyebabkan orang tidak susah dgn kita .Maka begitu hubungan dengan kita dengan orang lain dengan teratur molek.Dan adab ini satu bentuk pengiktirafan kita bagi kedudukan pihak satu lagi.
Yg dikatakan beadab ini ,kita meletakan bagi setiap  orang sesuai dengan kedudukan dia.dan begitulah kita berurusan dengan dia.Kita akui dia sebagai apa dan kita tahu macam mana kita nak berurusan dengan dia seperti yang sepatutnya kita buat.
Kalu kita beradab dengan ibubapa kita ,bermakna kita tahu itulah sebab kepada kewujudan kita.Dia yg mendidik menjaga ,mencari pitih untuk kita,jaga kepetingan kita.Kita iktiraf  kedudukan dia tu,maka kita balas dengan beramal kebajikan dengan berbakti kepada dia.Itu kita dikataakan beraadab dengan bapa kita.
Kalu kita kata kita beradab dengan alquran ,kita tahu kedudukan alquran sebagai wahyu Allah maka kita kena belajar,kita tadabur dan kita kena hayati dengannya.
Sebab kita tahu kedudukan alquran itu kitab hidayah,kalam Allah surat atau jemputan Allah kepada kita,maka kita tahu maka kita bertindak mengikut pengetahuan tadi.
Jadi yang dikatak adab itu dia makna iktiraf tau pengiktirafan kita.Sebab setiap daripada benda2 yg ada ini iaitu dalam kewujudan ini,ibubapa ,guru ,anak murid ,anak, harta,kenderaan kita ,masjid mana tempat dijalanan dia ada kedudukanya.Kedudukannya dalam bahasa falsafah ,setiap daripada benda yg  wujud semua itu ada kedudukannya dalam sistem dan sistem itulah yg menjadikanya teratur.Dan sistem ini berjalan dengan baik bila mana kita tahu adab.Itulah yg dikatakan adab.Jadi adab bukan semata2 etiks atau cara2 tatatertib,ia lebih luas lagi.Itulah dipanggil falsafah akhlak atau adab.
Jadi adab dalam agama ni ,setiap daripada benda yg wujud ada kedudukannya .Malaikat pun kata setiap daripada kita ada kedudukannya,maqam maklum dan makna jibril ada had dia setakat tu.Dalam hadis israk,dia  naik ke langit kedua,ada penjaga, ada penjaga dilangit kedua,sampai di sidratilmutaha ,jibril tak naik sebab terikat dengan sistem.
Dan bila menjaga sistem inilah dikatakan kita beradab atau berdisiplin.
Jadi bila sesaorang itu mengajar adab kepada anaknya itu lebih baik lagi daripada bersedekah.
Jadi nabi saw nak memberitahu kepada kita,kita  memberi penekanan akhlak dan pekerti itu lebih baik lagi dari cara pahala dengan cari pahala dengan bersedekah.
Dan yg nabi sebut ini sesuatu yg ideal sebab biasanya anak terabai bukan kata kerana kita sedekah atau tak sempat ca'ra anak kita bukan sebab kita sedekah sebab kita cari pitih.
Dan kita tidak sedekah pun dengan pitihtu.
Nabi nak royat dan dituju kepada orang yang tinggi akhlaknya dikalangan sahabat dan orang2 mukmin ,keutamaan kamu adalah mendidik anak itu lebih baik lagi daripada sedekah.
Dan tak masuk senarai kalu kamu cari pitih atau cari harta sehingga kamu tidak sempat nak didik anak apatah lagi kalu kalu dapat bersedekah pun.Sebab bila cara pitih kadang2 boleh lupa akhirat.Dimana dia sendiri pun tidak beradab setakat mana nak cari pitih,macam mana nak guna masa dan macam mana nak guna harta benda.
Jadi nabi nak sebut disini,kalu kamu nak cari pahala dengan bersedekah,jangan lupalah cari pahala dengan didik anak.Sebab itu lebih besar lagi.
Tapi bukan bererti sedekah tiada kelebihan.
Sedekah itu sudah maklum dan tidak dipersoalkan tentang kelebihannya.
Tetapi mendidik anak itu perkara yg lebih besar lagi pahalanya.
-sedekah ada dua
1.sedekah biasa contoh bg makan orang yg kelaparan.
2. Sedekah jariah,berterusan ,ini lebih baik lagi.
-bila nabi kata lebih baik lagi dari sedekah ,ini bererti lebih baik lagi dari sedekah biasa.
-Mendidik anak mendatang pahala yg berpanjangan.
-Juga lebih baik  sedekah jariah kerana anak yg pandai menjaga mesin misalnya ,yg dibina adalah  insan itu.
-Ayah yg cari pitih untuk tinggalkan pada anak,
Mati anak ada harta.
Tapi yg lebih baik ajar adab,harta yg dia tinggal pun akan terjaga.
Selepas ajar adab baru bererti segala pemberian hartabenda.
Mursal ko mana?

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٥ -  ما جاء في أدب الولد
باب مَا جَاءَ فِي أَدَبِ الْوَلَدِ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1295. Adab
anak

١٨٧٤ - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَعْلَى عَنْ نَاصِحٍ عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ يُؤَدِّبَ الرَّجُلُ وَلَدَهُ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَتَصَدَّقَ بِصَاعٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَنَاصِحٌ هُوَ أَبُو الْعَلَاءِ كُوفِيٌّ لَيْسَ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ بِالْقَوِيِّ وَلَا يُعْرَفُ هَذَا الْحَدِيثُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَنَاصِحٌ شَيْخٌ آخَرُ بَصْرِيٌّ يَرْوِي عَنْ عَمَّارِ بْنِ أَبِي عَمَّارٍ وَغَيْرِهِ هُوَ أَثْبَتُ مِنْ هَذَا

1874. Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ya'la dari Nashih dari Simak bin Harb dari Jabir bin Samurah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seseorang yang mengajari anaknya tentang kebaikan adalah lebih baik baginya daripada ia bersedekah sebanyak satu sha'." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib. Nashih adalah Abul Ala` Kufi, menurut Ahli hadits ia bukanlah termasuk rawi yang kuat. Dan hadits ini tidak diketahui kecuali dari jalur ini. Sedangkan Nashih adalah seorang syaikh yang lain, ia berasal dari Basrah dan meriwayatkan dari Ammar bin Abu Ammar dan juga selainnya, dan ia lebih kuat dari pada yang ini.

١٨٧٥ - حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَامِرُ بْنُ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازُ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ

👈 جَدِّهِ

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نَحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عَامِرِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ الْخَزَّازِ وَهُوَ عَامِرُ بْنُ صَالِحِ بْنِ رُسْتُمَ الْخَزَّازُ وَأَيُّوبُ بْنُ مُوسَى هُوَ ابْنُ عَمْرِو بْنِ سَعِيدِ بْنِ الْعَاصِي وَهَذَا عِنْدِي حَدِيثٌ مُرْسَلٌ

1875. Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami, telah menceritakan kepada kami Amir bin Abu Amir Al Khazzar, telah menceritakan kepada kami
👉Ayyub bin
-
👉Musa
- musa dilahir zaman osman
dari bapaknya dari
👉 kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada suatu pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab (akhlak) yang baik." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari haditsnya Amir bin Abu Amir Al Khazzar, ia adalah Amir bin Shalih bin Rustum Al Khazzar. Sedangkan Ayyub bin Musa adalah Ibnu Amr bin
👉Sa'id bin Al Ash.
-lahir zaman nabi
Dan menurutku, ini adalah hadits
👉 Mursal.
-kedua tetap
Q
Minit 31-minit 39
-tidak menerima hadiah sifat takabbur.
-nabi saw dan ahli bait tidak boleh terima sedekah zakat.
-nabi tidak asnab.
-tanda kenabian menerima hadiah,pemberian dlm keadaan terhormat.
-jgn bg kerana mengharapkan balasan.
-tapi yg menerima boleh balas.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٦ -  ما جاء في قبول الهدية والمكافأة عليها

باب مَا جَاءَ فِي قَبُولِ الْهَدِيَّةِ وَالْمُكَافَأَةِ عَلَيْهَا:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1296. Menerima hadiah dan membalas

١٨٧٦ - حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ وَعَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ قَالَا حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَنَسٍ وَابْنِ عُمَرَ وَجَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ مَرْفُوعًا إِلَّا مِنْ حَدِيثِ عِيسَى بْنِ يُونُسَ عَنْ هِشَامٍ

1876. Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Aktsam dan Ali bin Khasyram keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Aisyah bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menerima hadiah dan membalasnya. Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Anas, Ibnu Umar dan Jabir. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib shahih ditinjau dari jalur ini. Kami tidak mengetahuinya sebagai hadits Marfu' kecuali dari haditsnya Isa bin Yunus dari Hisyam.

Minit 39-minit 47

Minit 39-minit 47
-lebih mudah sebab nampak lagipun fitrah
-tetapi yg Allah agak tersembunyi.jadi jika tidak berterima kasih kepada manusia lagi susahlah nak berterima kasih kepada Allah.

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٧ -  ما جاء في الشكر لمن أحسن إليك

باب مَا جَاءَ فِي الشُّكْرِ لِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْكَ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1297. Berterima kasih kepada orang yang berbuat baik

١٨٧٧ - حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ لَا يَشْكُرُ اللَّهَ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

1877. Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak, telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Muslim, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak pandai bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.

١٨٧٨ - حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ح و حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّوَاسِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

1878. Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ibnu Abu Laila (dalam riwayat lain). Dan telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki', telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman Ar Ruwasi dari Ibnu Abu Laila dari 'Athiyyah dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Asy'ats bin Qais dan An Nu'man bin Basyir. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.

Minit 47-
-bab perilaku2 yg baik
-ianya luas

٢٧ -  البر والصلة عن رسول الله » ١٢٩٨ -  ما جاء في صنائع المعروف
باب مَا جَاءَ فِي صَنَائِعِ الْمَعْرُوفِ:

27. Berbakti dan menyambung silaturrahim » 1298. Berbuat kebajikan

١٨٧٩ - حَدَّثَنَا عَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ الْعَنْبَرِيُّ حَدَّثَنَا النَّضْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُرَشِيُّ الْيَمَامِيُّ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو زُمَيْلٍ عَنْ مَالِكِ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيك

👈َ لَكَ صَدَقَةٌ
-lebih menegaskan dapat pahala sedekah.sebab dapat mengembirakan saudara kita.

وَأَمْرُكَ بِالْمَعْرُوفِ وَنَهْيُكَ عَنْ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَإِرْشَادُكَ

👈 الرَّجُلَ
-maful

فِي أَرْضِ الضَّلَالِ لَكَ صَدَقَةٌ وَبَصَرُكَ لِلرَّجُلِ الرَّدِيءِ الْبَصَرِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِمَاطَتُكَ الْحَجَرَ وَالشَّوْكَةَ وَالْعَظْمَ عَنْ الطَّرِيقِ لَكَ صَدَقَةٌ وَإِفْرَاغُكَ مِنْ دَلْوِكَ فِي دَلْوِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَجَابِرٍ وَحُذَيْفَةَ وَعَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَأَبُو زُمَيْلٍ اسْمُهُ سِمَاكُ بْنُ الْوَلِيدِ الْحَنَفِيُّ

1879. Telah menceritakan kepada kami Abbas bin Abdul Azhim Al Anbari, telah menceritakan kepada kami An Nadlr bin Muhammad Al Jurasyi Al Yamami, telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Abu Zuamail dari Malik bin Martsad dari bapaknya dari Abu Dzarr ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
👉"Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Jabir, Hudzaifah, 'Aisyah dan Abu Hurairah. Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib dan Abu Zumail bernama Simak bin Walid Al Hanafi.